Select Language

Wednesday, February 10, 2010

In Memoriam of Gus Dur

K.H Abdurrahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur lahir di Denanyar Jombang Jawa Timur pada tanggal 7 September 1940 Masehi atau 4 Sya'ban 1359 Hijriyyah. Gus Dur adalah putra pertama dari enam bersaudara. K.H Ahmad Wahid Hasyim adalah ayahanda Gus Dur yang tak lain adalah anak dari pendiri Organisasi Islam terbesar di Indonesia NU, yaitu K.H Hasyim Asy'ari. Sementara kakek dari pihak ibu adalah K.H Bisri Syansuri, pendiri Ponpes Mamba'ul Ma'arif Denanyar Jombang. Nama asli Gus Dur adalah Abdurrahman Addakhil yang artinya adalah Sang Penakluk. Namun nama itu akhirnya diganti menjadi Abdurrahman Wahid. Ayahnya mengambil nama Addakhil dari seorang perintis Dinasti Umayyah yang berhasil menaklukkan Andalusia ( sekarang Spanyol ) dalam menyebarkan agama Islam. Ayahnya pun mengharapkan hal serupa, yakni Gus Dur bisa menjadi " SANG PENAKLUK ".
Harapan ayahanda Gus Dur bisa dibilang terwujud. Gus Dur berhasil menaklukkan Indonesia dengan menjadi Presiden RI ke-4 setelah runtuhnya rezim Orde Baru. Gus Dur terpilih melalui pemilihan di gedung DPR/MPR. Pada waktu itu, yang memiliki hak suara hanya para anggota parlemen di DPR/MPR. Gus Dur mengunguli perolehan suara Megawati Soekarno Putri yang akhirnya menjadi wakil Gus Dur. Selama menjabat presiden, Gus Dur memberikan banyak perubahan dan gebrakan untuk negeri ini. Walaupun tak sedikit yang menuai kontroversi. Antara lain jasa Gus Dur adalah : menenangkan konflik di Irian Jaya dengan cara mengembalikan nama Irian Jaya menjadi Papua, dengan demikian banyak warga Papua yang akhirnya respec terhadap Gus Dur. Menghapus Depsos yang dianggap tidak memberi banyak pengaruh di Indonesia. Dan yang paling terkenal adalah dengan mengesahkan agama Kong Hu Chu menjadi agama resmi ke enam di Indonesia.
Gaya bicara Gus Dur yang ceplas-ceplos juga sering membuat geram, lucu, sekaligus bingung orang-orang di sekitarnya. Tak sedikit perkataan Gus Dur yang menjadi kenyataan. Saya teringat dulu Gus Dur pernah dawuh : orang-orang yang di DPR tak ada bedanya dengan anak TK. Banyak orang yang merasa tersinggung tapi ini memang benar adanya dan menjadi kenyataan. Masih hangat dalam ingatan kita dalam pansus Bank Century sewaktu 2 orang anggota Dewan Terhormat saling cerca dan mengeluarkan kata-kata yang tidak terhormat. Mereka saling beradu mulut laiknya anak TK. Saya juga masih ingat sewaktu Gus Dur diwawancarai tentang hasil survei " Bisakah Gus Dur kembali menjadi Presiden pada Pemilu 2004 ?". Hasil survei itu adalah 80% mengatakan tidak bisa, 18% mengatakan tidak tahu dan hanya 2% yang mengatakan Gus Dur bisa menjadi presiden. Dengan enteng Gus Dur menjawab : " Lha wong yang ikut survei cuma orang-orang yg punya hp, sedangkan orang-orang kampung ( masyarakat bawah ) kan ndak punya (hp)".

Tidak perlu kita mengorek banyak tentang beliau, karena hanya akan menghabiskan banyak halaman dan waktu untuk membaca. Sudah banyak sekali buku-buku tentang Gus Dur tapi seolah semua belum lengkap. Cukup Anda ke Tebuirng Jombang. Dan lihatlah animo masyarakat yang tinggi, para peziarah tidak pernah surut dari saat menyebarnya berita meninggalnya Gus Dur sampai saat anda membaca tulisan ini. Tak pelak, sekarang Tebuireng menjadi desa Metropolitan karena banyaknya pengunjung yang datang dari berbagai daerah.

Saya sempat membaca di kaca bis peziarah tulisan " Ziaroh Wali 9+Gus Dur". Secara tersirat kalimat itu bermakna Gus Dur juga adalah seorang wali, atau paling tidak masyarakat sudah mengangkat Gus Dur menjadi wali. Ada juga yang mengatakan Gus Dur adalah orang yg seperti Nabi Khidir. Nabi yang dalam beberapa kisah diceritakan kontroversial tapi mempunyai ilmu yang sangat tinggi. Ada juga yang mengatakan "Tebuireng kecipratan barokah Gus Dur. Karena banyak orang yang awalnya pengangguran yang membuka lapangan kerja di sekitar Ponpes Tebuireng tempat Gus Dur dimakamkan.

Terlepas dari itu semua, Gus Dur sudah pasti termasuk dalam golongan : Ma'al alladzina an'ama Allahu alaihim min annabiyyiina wa ashiddiqiina wa asyyuhadaa wa asholihiin.
Wa Allahu A'lam.

Sudah 40 hari Gus Dur meninggalkan kita, tapi pemikirannya tidak akan pernah meninggalkan kita.
Selamat jalan Gus Dur, Presiden RI ke-4, Bapak Pluralisme & Multikultural, Guru Bangsa, Kyai Lintas Agama, dan Bapak Pembela yg Benar.....

No comments:

Post a Comment

Tulis Komentar Anda Tentang Blog Ini